Insiden di Finsbury Park dan Imam Masjid yang Melindungi Pelakunya

418D588600000578-0-image-a-11_1497880127237

Kepolisian London Raya, atau Metropolitan Police (Met), pada April lalu di situs website resminya menyebutkan kalau London termasuk sebagai kota global teraman di dunia. Tetapi, menilik dua insiden besar yang terjadi tahun ini, nampaknya mereka perlu bekerja lebih keras untuk menegakkan klaim itu.

Terlebih, pada Senin (19/6) dini hari saat setempat, warga London mesti terima fakta kalau berlangsung penyerangan terhadap sejumlah orang di Finsbury Park yang terdapat di sebelah utara kota.

Tindakan dilakukan oleh seorang pria kulit putih dari Cardiff, Wales, bernama Darren Osborne, 47 tahun. Menurut para saksi, dia berteriak “ingin membunuh semua orang Islam” saat membenturkan kendaraannya ke kerumunan pejalan kaki di Seven Sisters Road.

The Guardian mewartakan kalau satu orang tewas serta 11 yang lain mengalami cedera dalam peristiwa itu. Semua korban tercatat sebagai muslim yang baru usai melaksanakan tarawih, dan pihak berwenang menyebutkan peristiwa itu jadi serangan teror pada komunitas Islam.

Anggota keluarga tersangka, Ellis Osborne, 26 tahun, menyebutkan “benar-benar terkejut ” pada saat mendengar Darren dibekuk. “Kami berduka dengan apa yang dialami oleh para korban cedera,” katanya dinukil Financial Times.

Dia juga menambahkan kalau pamannya bukanlah laki-laki berpandangan rasis.

Darren dibekuk setelah dikepung dan dijatuhkan oleh pejalan kaki beda selesai beraksi. Di tengah kekacauan itu, Mohammed Mahmoud, seorang imam masjid, memutuskan untuk bergegas ke tengah kerumunan dan melerai massa.

Mahmoud serta beberapa orang membuat lingkaran pagar betis di sekitaran pelaku seraya menunggu kehadiran polisi. “Kami menjauhkannya dari massa sampai polisi tiba dan membekuknya,” ujarnya. “Saya tidak sendiri, ada kawan-kawan lain (yang membantu) “.

Walau sebenarnya, jika dia tidak mulai berteriak “Jangan ada yang menyentuhnya–jangan!”, mungkin saja pelaku telah dihakimi massa.

Sang imam mendatangi tempat sesudah seorang anggota jemaah masjid memberitahu kalau ada orang yang menabrakkan kendaraan ke rombongan pejalan kaki.

Setiba di tempat perkara, mereka lihat pelaku ada di jalan dan dipegangi oleh tiga orang. Selain itu, ada sekumpulan orang yang lain mulai merubung. Sebagian di antaranya berusaha menendang dan memukul.

“Karena keagungan Tuhan, kami berhasil mengelilingi dan melindunginya,” katanya.

Dalam tulisan yang dimuat The Guardian, Wali Kota London, Sadiq Khan, menyebutkan “belum mengetahui motivasi di balik serangan itu. Namun, terorisme adalah terorisme, apapun tujuan serta ide para pelakunya”.

“Masyarakat London sudah melalui minggu-minggu yang susah,namun saya tahu mereka selalu kuat dan bersatu “. Pungkasnya.

Masjid Finsbury Park berdiri pada 1994 dan turut mewadahi para Islamis garis keras seperti Zacarias Moussaoui–warga Prancis yang berkongsi menghabisi warga AS jadi bagian dari serangan 11 September 2001–dan Richard C. Reid, yang berusaha meledakkan pesawat AS pada akhir 2001 dengan bom sepatu.

Pada 2015, eks imam masjid, Mostafa Kamel Mostafa, divonis penjara seumur hidup di Pengadilan Manhattan lantaran terbukti bersalah atas 11 tudingan berkaitan terorisme.

Dalam website resminya, pihak pengurus masjid menyebutkan kalau “manajemen baru mencerminkan peran masjid semestinya–tempat beribadah, belajar agama, serta hubungan sosial. Masjid ini menghidangkan pengajaran Islam sejati jadi agama penuh toleransi, kerja sama, dan kedamaian”.

Persis sebelum insiden Finsbury Park, London dikejutkan oleh serangan di Jembatan London serta Pasar Borough pada Sabtu (3/6).

Paling tidak tujuh orang meninggal dunia serta puluhan yang lain cedera–termasuk 21 orang dalam kondisi koma–setelah satu minibus berkecepatan tinggi menabrak beberapa pejalan kaki sebelumnya beberapa penumpangnya keluar, menghunus belati, serta menusuk orang dengan acak di Pasar Borough.

Berdasarkan penjelasan seorang saksi mata, seperti diberitakan BBC, para terduga pelaku meneriakkan kalimat “(aksi) ini untuk Allah” seraya berlari dengan belati terhunus. Sang saksi menambahkan kalau dia lihat seorang gadis ditikam hingga 10 atau 15 kali.

“Orang-orang harus bisa meneruskan hidupnya dengan normal,” tutur Perdana Menteri Inggris, Theresa May, tidak lama sesudah insiden. “Masyarakat mesti selalu menggerakkan nilai-nilai yang kita yakini. Namun, dalam perkara ekstremisme serta terorisme, mesti ada yang berubah”.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s